Menyayangi Anak, Melindungi Anak, Memenuhi Hak Pendidikan Anak

Setiap tahunnya pada tanggal 23 Juli, Rakyat dan Pemerintah Indonesia memperingati Hari anak Nasional (HAN). Peringatan ini berarti kita memperhatikan penuh dan mengutamakan tindakan serta membuat dan melaksanakan kebijakan berpihak pada anak. Mengapa anak menjadi prioritas dalam pembangunan nasional?

Anak adalah generasi penerus. Anak adalah Pewaris Indonesia. Anak adalah pemimpin masa depan. Anak adalah citra peradapan Bangsa. ‘Menyayangi Anak, Melindungi Anak dan Membangun Masa Depan Anak’ yang merupakan tema HAN ke-42 tahun 2026 ini menjadi upaya sungguh-sungguh dari semua pihak baik dari masyarakat maupun pemerintah terlebih organisasi anak dan lembaga pendidikan.

Anak perlu diberi ruang gerak dan waktu luang agar dapat belajar dari setiap kesempatan dan pengalaman saat ia berinteraksi dengan lingkungannya. Sebab belajar adalah proses interaksi pembelajaran dengan sumber dan lingkungan belajar. Oleh karenanya, pembelajaran  yang diberikan kepada anak di sekolah sebaiknya tidak melulu terpaku pada buku dan papan tulis atau layar projektor; juga sebaiknya tidak terbatas pada ruang kelas dengan segala tuntutan tugas dan ujian. Mengapa? Karena sekolah berasal dari kata ‘schole’ (Yunani) yang  berarti waktu luang.  Lalu apa yang dimaksud dengan waktu luang?

Waktu luang adalah sisa waktu saat seseorang atau sekelompok orang bebas dari tugas/pekerjaan. Dalam waktu luang seseorang atau sekelompok orang bebas menggunakan  waktu sesuka  hati bisa untuk istirahat, melakukan kegemaran, mengerjakan sesuatu yang ingin diketahuinya atau sekedar berkumpul dengan teman, entah bercanda, bermain, bercakap-cakap. Namun saat orang berkumpul mengisi waktu luangnya, banyak di antara mereka tidak tahu apa yang akan dilakukannya. Dari temuan ini, mulailah ditawarkan  kegiatan dari satu kegiatan menjadi banyak kegiatan. Disayangkan saat kegiatan bermunculan, makna ‘kebebasan’ dalam pengisian waktu luang menjadi terlupakan dan bergeser menjadi program terstruktur dan kaku. Kegiatan di sekolah tidak lagi ditawarkan tetapi suatu keharusan untuk diikuti.

Tema HAN ke 42 tahun 2026 ini ‘sayangi anak, lindungi dan bangun masa depan anak’ mengandung 3 pesan yakni: pertama,  menghargai anak; kedua, melindungi anak dari kekerasan; ketiga, memenuhi hak anak atas pendidikan dan kesehatan untuk masa depannya. Ketiga pesan ini menggelitik kita para praktisi anak dan pendidikan.

Terhadap banyaknya jumlah mata pelajaran dan tuntutan tugas dan ulangan dari setiap mata pelajaran, anak tidak pernah ditawari suka pelajaran yang mana, mau mengerjakan pelajaran yang mana dulu, ini berarti sekolah belum memberikan penghargaan kepada anak. Adanya batasan waktu pengerjaan tugas dan adanya sejumlah instruksi/aturan yang meminta anak untuk menyesuaikan dan melakukannya tanpa memperhatikan kekhususan dari setiap anak, ini  berarti sekolah tidak memberikan perlindungan, sebaliknya sekolah membiarkan anak menghadapi kekerasan yang jelas-jelas merampas kebebasan mereka. Belum lagi saat pendaftaran siswa baru, masih banyak Anak Indonesia yang karena alasan administrasi prosedural tidak dapat pergi ke sekolah; belum lagi ketentuan yang memberlakukan jika pencapaian hasil belajar tidak sesuai dengan standard sekolah, anak terancam putus sekolah,  ini berarti kehadiran sekolah dengan tujuan memenuhi pendidikan anak belum dapat dikatakan tercapai. Peraturan/ketentuan sekolah membatasi pemenuhan hak anak atas pendidikan.

Dari refleksi pengertian sekolah yang sesungguhnya, Anak Indonesia pergi ke sekolah, tidak lagi untuk mengisi waktu luang, justru saat ini yang kita saksikan mereka ingin buru-buru pulang ke rumah karena di rumah mereka dapat mengisi waktu luangnya dengan bermain game menggunakan macam-macam media  teknologi. Refleksi terhadap ketiga pesan tema HAN ke 42 tahun 2026, anak Indonesia masih kurang mendapatkan penghargaan, perlindungan dan pemenuhan hak atas pendidikannya. Kalau Anak Indonesia pada umumnya sudah dan sedang mungkin akan menghadapi banyak tantangan dalam membangun masa depannya, lalu bagaimana dengan Anak Indonesia yang berkebutuhan khusus?

Hadir Mimi Institute di tahun 2009 untuk anak/remaja/dewasa berkebutuhan khusus (penyandang disabilitas). Sebagai bagian dari masyarakat, Mimi Institute ikut ambil peran terhadap pendidikan. Anak berkebutuhan khusus menjadi prioritas sebab yakin suatu saat di antara mereka menjadi pemimpin yang memimpin bangsa ini untuk memberikan penghargaan, perlindungan dan pemenuhan hak pendidikan bagi semua anak.

Dengan pembelajaran yang menarik, menyenangkan dan memudahkan,  anak berkebutuhan khusus datang mengisi waktu luangnya di Mimi Institute. Murid Mimi Institute belajar secara individual atau dalam kelompok kecil 3-5 orang agar mereka sungguh-sungguh menikmati waktu luangnya. Bersama tutor/guru, mereka bermain dan belajar dengan rasa bebas dan suka hati. Sama dengan Anak Indonesia pada umumnya, mereka pun bisa asyik bermain game dan permainan teknologi lainnya. Namun dengan diberikan macam-macam fasilitas pembelajaran yang tidak hanya terbatas pada ruangan dan tidak melulu terpaku pada buku, mereka nyaman di Mimi Institute. Ada program belajar di alam; ada kegiatan belajar langsung melibatkan masyarakat seperti pelajaran berhitung langsung dengan mengajak mereka berbelanja di pasar; ada pula program yang bersumberkan masyarakat seperti edukasi di museum, edukasi layanan transportasi publik. Pembelajaran eksperimen juga dilakukan, seperti saat memahami perubahan wujud benda, mereka diajak langsung mengambati perubahan benda padat es menjadi benda cair menjadi air.

Di samping memberikan ruang mereka bermain dengan media teknologi, mereka pun diajak untuk mengenal dan bermain permainan tradisional.

HAN ke 42 Tahun 2026 ini, Mimi Institute berpartisipasi aktif dengan menyelenggarakan  permainan tradisional. Murid Mimi Institute mengekspresikan kebebasannya  dalam permainan tradisional. Ada yang bermain tapak gunung, yoyo, bekel. Senyum lebar dan tawa lepas mereka menjadi saksi bagi orangtua/wali yang menghapus keraguannya menjadi keyakinan, anaknya akan tumbuh dan berkembang menjadi pribadi yang bermakna dan bermanfaat dengan macam-macam pengalaman yang didapatnya dan macam-macam kesempatan yang diberikan.

Dengan diberikan  ruang bergerak serta waktu luang yang banyak, mereka dapat mengaktualisasikan dirinya, terpenting dan mutlak cara mereka berinteraksi dengan sumber dan lingkungan belajar perlu difasilitasi, bukan mereka yang menyesuaikan, tetapi sumber dan lingkungan belajar yang membuat penyesuaian dan bila perlu melakukan perubahan. Dengan fasilitasi yang akses dan akomodatif inilah, Anak Indonesia yang berkebutuhan khusus mendapatkan  penghargaan, perlindungan dan pemenuhan haknya atas  pendidikan.

Pesan dan ajakan Murid Mimi Institute bagi seluruh anak Indonesia untuk luangkan waktu bermainnya tidak hanya dengan permainan teknologi, tetapi juga bermain permainan tradisional.  Asyiknya bermain tapak gunung, serunya bermain tak lari dan masih banya lagi permainan tradisional. Jangan biarkan permainan tradisional kita dikalahkan dengan permainan teknologi; dan jangan biarkan permainan tradisional kita hilang karena Anak Indonesia tidak lagi memainkannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *