Pendirian Mimi Institute
Mimi Institute berdiri pada 17 Desember 2009, berbadan hukum yayasan dengan akta notaris No: 1/F.2.1/31.73.02.1006.16.R-1/4/TM.17.01/e/2024
Penggagas berdirinya Mimi Institute adalah Ibu Veronika Laetitia Mimi Mariani Lusli yang keseharian dipanggil Bunda Mimi.
Beliau adalah seorang perempuan dengan disabilitas netra yang berhasil meraih satu gelar sarjana pada 1989, dua gelar master pada tahun 1997 dan 2005 serta satu gelar doktoral pada tahun 2016.
Apa yang melatarbelakangi hadirnya Mimi Institute?
Ia dan teman-temannya yang berkebutuhan khusus / disabilitas punya keinginan yang sama dengan teman-temannya yang tidak berkebutuhan khusus. Kami ingin main dan rekreasi, belajar, sekolah dan kuliah; kami juga ingin mengisi waktu luang dengan kegiatan yang kami minati ataupun ingin mencoba kegiatan baru agar kami bisa punya pengalaman; kami ingin bekerja/usaha mendapatkan uang supaya dapat hidup layak dan berbagi; di antara kami pun ingin pacaran, menikah dan hidup berkeluarga.
Namun keinginan ini tidak mudah untuk didapat padahal itu semua adalah hak kami, yang melekat erat dalam diri kami sebagai anugerah Tuhan dan dilindungi Negara.
Apa masalahnya?
Masalahnya Cuma satu yakni “ketidaktahuan” keluarga / masyarakat / pemerintah tentang kami. Karena “ketidaktahuannya”, mereka cenderung memandang aneh, bersikap mencibir juga berperilaku mengabaikan keinginan kami, dan ini membuat banyak di antara kami yang dieksklusikan secara sosial.
Akan tetapi tidak bagi Bunda Mimi, baginya sederhana saja, karena masalahnya “ketidaktahuan”, maka penyelesaiannya adalah dengan “memberitahu” dan mengedukasi khalayak ramai agar inklusi sosial yang kami rindukan dapat terwujud.
Apa Langkahnya?
Langkah pertama dan utama “beritahu”. Untuk memberitahu kepada keluarga / masyarakat / pemerintah tentang kami sebaiknyalah dan semestinyalah dilakukan oleh kami “nothing about us, without us”.
Mereka tahu ada kami yang berkebutuhan khusus di sekitar nya, mereka mau berinteraksi dengan kami tetapi tidak tahu. Cara berinteraksi kami yang beda belum dipahami setara dengan perbedaan jenis kelamin, bahasa, agama, suku, karakteristik, kebutuhan, pendapat, warna kulit, postur tubuh, latar belakang, status dan kondisi beda apapun yang melekat pada setiap diri individu. Pada langkahnya ini, ia terus bicara memberitahukan agar mereka tidak hanya paham melainkan bisa mengakui eksistensi dan partisipasi kami dalam sistem keragaman masyarakat sesuai makna ‘Bhineka Tunggal Ika’.
Pendekatan kerja apa yang digunakan Mimi Institute?
Untuk mewujudkan inklusi sosial, Mimi Institute menerapkan “empowerment approach”, pemberdayaan warga berkebutuhan khusus / disabilitas, sekaligus pemberdayaan warga pada umumnya.
Mimi Institute Untuk Siapa?
Untuk warga berkebutuhan khusus / disabilitas dan untuk warga pada umumnya. Siapa mereka?
Warga berkebutuhan khusus usia anak, remaja dan dewasa. Mereka yang ASD termasuk autism; hiperaktif disorder termasuk attention defisit; kesulitan belajar, mereka yang disleksia, discalculia dan disgrafia; speech delay dan global development delay; slow learner dan down syndrom; juga mereka yang disabilitas intelektual dan disabilitas fisik; serta mereka yang low vision, buta total dan mereka yang tuli.
Warga pada umumnya yakni keluarga, pendidik, pengasuh/care giver, organisasi layanan publik, pengusaha, akademisi, serta lembaga pemerintah dan masyarakat umumnya.
