Tulisan ini dimulai dengan pertanyaan: apakah ada kaitan antara disabilitas dengan gizi? Jawabannya, jelas ada kaitannya. Salah satu faktor penyebab disabilitas adalah penyakit. Faktor ini erat kaitannya dengan kesehatan, dan kesehatan bergantung penuh pada asupan gizi. Apa itu gizi?
Gizi adalah zat makanan pokok bersumber dari makanan yang kita makan. Makanan bergizi mengandung makanan yang terdiri dari makronutrien (karbohidrat, protein, lemak) dan mikronutrien (vitamin, mineral, air). Makanan yang bergizi tidak lagi dikenal sebagai 4 sehat 5 sempurna, tetapi makanan dengan gizi seimbang. Apa itu gizi seimbang?
Gizi seimbang merupakan susunan pangan sehari-hari yang mengandung zat gizi dalam jenis dan jumlah yang sesuai dengan kebutuhan tubuh dengan memperhatikan 4 pilar, yakni konsumsi makanan beragam, perilaku hidup bersih dan sehat, aktivitas fisik dan menjaga berat badan yang ideal. Keempat pilar ini saling melengkapi dan dibutuhkan oleh tubuh kita untuk menjaga keseimbangan nutrisi, energi dan kesehatan tubuh secara menyeluruh. Gizi seimbang penting untuk memperkuat sistem kekebalan tubuh serta mencegah resiko penyakit.
Pilar pertama tentang konsumsi beragam dimaksudkan karena setiap jenis makanan tidak mengandung semua zat gizi yang dibutuhkan oleh tubuh kita. Oleh sebab itu, kita diminta untuk mengkonsumsi makanan yang beragam. Misal untuk karbohidrat, tidak hanya melulu mengkonsumsi nasi, tetapi bisa bervariasi dengan kentang, roti, ubi dan jenis makanan karbohidrat lainnya. Begitupun dengan kandungan makronutrien dan mikronutrien lainnya. Vitamin C tidak hanya diperoleh dari buah-buahan seperti jeruk, jambu biji, dan stroberi, tetapi ditemukan pula pada sayur-sayuran seperti brokoli, kubis dan labu kuning. Kita sebagai Warga Indonesia dianugerahkan makanan yang beragam sebagai harta dan kekayaan Bangsa. Mari kita kelola bahan makanan yang beragam menjadi menu yang bervariasi dan sehat untuk keluarga dan komunitas kita.
Pilar kedua tentang Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) dimaksudkan supaya kita dapat mempertahankan kebiasaan hidup bersih, seperti cuci tangan sebelum makan; mandi setelah pulang berpergian; cuci kaki sebelum pergi tidur; gosok gigi setelah makan; ganti baju setelah mandi; jangan menggunakan handuk mandi secara bersamaan dll. Tidak hanya melakukan hidup bersih untuk diri kita, tetapi penting dan perlu dilakukan lingkungan yang bersih, seperti membersihkan selokan seminggu sekali; sapu pel lantai rumah setiap hari; buang sampah di tempatnya; semprot disinfectan secara rutin sebulan sekali dll. Kebiasaan hidup bersih perlu ditanamkan sejak kecil dan dilakukan di rumah oleh orangtua sebagai pendidik pertama dan utama. Dengan pembiasaan hidup bersih terwujud perilaku hidup bersih. Kehidupan yang bersih baik kita sebagai makhluk individual maupun makhluk sosial dipastikan dapat berkontribusi positif bagi kehidupan Bangsa yang sehat.
Pilar ketiga tentang aktivitas fisik dimaksudkan bahwa tidak cukup hanya dengan mengkonsumsi makanan beragam dan melakukan hidup bersih, kedua pilar ini perlu dilengkapi oleh berbagai aktivitas fisik seperti olahraga dan kegiatan keseharian yang terjadwal rutin. Diri kita perlu berpikir dan tubuh kita perlu bergerak mengolah asupan makanan yang kita makan menjadi energi positif sebagai dasar terbentuknya pikiran, perkatan dan perbuatan positif bagi kesehatan Bangsa kita.
Pilar keempat tentang menjaga berat badan ideal dimaksudkan agar kita waspada dengan berat badan kita. Karena berat badan yang berlebih atau berkurang bertanda tidak sehat. Untuk itu penting bagi kita untuk mengatur jenis dan jumlah serta pola makan kita yang diimbangi dengan keteraturan aktivitas fisik serta didukung dengan kebiasaan hidup bersih dan perilaku hidup sehat. Berat badan berlebih (obesitas) dan berat badan berkurang (anoreksa) hanyalah menambah angka disabilitas dan angka kematian pada Bangsa kita ini. Untuk itu menjadi tugas dan tanggung jawab kita masing-masing agar selalu menjaga dan mempertahankan berat badan ideal dengan tawaran rumus tinggi badan dikurangi angka 100 (untuk laki-laki) dan dengan rumus tinggi badan dikurangi angka 110 (untuk perempuan).
Penjelasan di atas mau mengatakan, saat kita dapat memberikan pemenuhan gizi seimbang bagi tubuh, kita terbebas dari penyakit. Namun sebaliknya bila tubuh kita kurang bahkan tidak dilengkapi dengan gizi seimbang, tubuh kita akan mudah terkena penyakit. Dan penyakit dapat berujung pada disabilitas, benarkah?
Benar, seperti di saat kehamilan, ibu hamil kurang nutrisi yang mengandung asam folat, akibatnya bayi lahir dengan kondisi disabilitas. Seseorang yang sudah terkena hipertensi tidak menjaga pola makannya dan tidak melakukan olahraga rutin, akibatnya terserang stroke dan menjadi seorang disabilitas fisik pengguna kursi roda. Pada masa pertumbuhan awal, seorang anak kurang nutrisi vitamin A, kebutaan akan dialaminya dan menjadikan ia seorang disabilitas sensori netra. Masih banyak lagi di antara kita yang kurang memperhatikan gizi seimbang, dan membuat kita mengalami berbagai penyakit atau memperparah kondisi sakit yang menjadikan kita penyandang disabilitas. Seperti lupus memungkinkan kita mengalami kebutaan; diabet melitus memungkinkan kita mengalami amputasi kaki/tangan.
Kaitan erat antara disabilitas dan gizi menjadi perhatian yang tidak cukup kita tahu dan kita sadari, tetapi aksi nyata diperlukan agar masing-masing kita mendapatkan gizi seimbang sekaligus konsultasi dan penanganan medis serius jika diperlukan. Aksi nyata ini dapat menghentikan dampak gizi buruk pada disabilitas hingga kembatian. Apa langkah konkret dari aksi nyata ini?
Edukasi gizi seimbang kepada warga mulai dari keluarga, RT, RW hingga kelurahan, kecamatan hingga kota/kabupaten; Jalur pendidikan mulai dari pendidikan pra sekolah hingga pendidikan tinggi. Edukasi gizi seimbang juga dapat dilakukan sebagai bagian dari materi pelatihan di organisasi sosial masyarakat, perusahaan dan pemerintah. Agar materi gizi seimbang dapat dijangkau oleh semua warga termasuk warga disabilitas, maka pendekatan inklusif disabilitas perlu direncanakan, dilaksanakan dan dipantau dengan pelibatan bermakna penyandang disabilitas.
Tulisan ini diakhiri dengan kesimpulan pertama, bahwa setiap kita perlu memanjakan tubuh kita dengan gizi seimbang. Gizi seimbang memastikan diri kita terhindar dari penyakit serta dipastikan dapat menurunkan angka disabilitas juga angka kematian. Untuk itu akses gizi seimbang secara akomodatif harus dapat dinikmati oleh semua karena hak atas pangan dan hak hidup sehat adalah hak setiap warga yang dijamin dan dilindungi dalam Undang-Undang Dasar 1945.
Pada kesimpulan kedua, tulisan ini ikut memaknai Hari Gizi Nasional (HGN) yang diperingati tanggal 25 Januari setiap tahunnya. Untuk tahun 2026 ini HGN mengangkat tema ‘gizi optimal mewujudkan generasi emas 2045). Tema ini berlaku pula bagi generasi disabilitas yang adalah bagian tak terpisahkan dari generasi emas 2045 mendorong agar layanan publik bidang gizi untuk memberikan perlakuan khusus dan perlindungan lebih bagi warga disabilitas dalam mendapatkan hak gizi seimbang dalam kehidupan kesehariannya sebagaimana asas pelaksananaan dan pemenuhan hak penyandang disabilitas yang tercantum pada pasal 2 Huruf K Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 Tentang Penyandang Disabilitas.
Salam Masyarakat Indonesia Masyarakat Inklusi (MIMI)

